Selamat Datang di blog Miftachul Huda Welcome to the blog Miftachul Huda

Minggu, 07 Oktober 2012

3. Pemakaian Kata Dalam Bahasa Indonesia


            Morfem adalah kesatuan yang ikut serta dalam pembentukan kata dan yang dapat dibedakan artinya. Alomorf adalah variasi bentuk dari suatu morfem disebabkan oleh pengaruh lingkungan yang dimasukinya. Kata adalah kesatuan-kesatuan yang terkecil yang diperoleh sesudah sebuah kalimat dibagi atas bagian-bagianya, dan yang menngandung suatu ide. Nasalisasi adalah proses merubah atau memberi nasal pada fonem-fonem.  
1.1          Pilihan Kata (diksi)
Diksi ialah pilihan kata. Maksudnya, kita memilih kata yang tepat untuk menyatakan sesuatu. Pilihan kata merupakan satu unsur sangat penting, baik dalam dunia karang-mengarang maupun dalam dunia tutur setiap hari. Dalam memilih kata yang setepat-tepatnya untuk menyatakan suatu maksud, kita tidak dapat lari dari kamus. Kamus memberikan suatu ketepatan kepada kita tentang pemakaian kata-kata. Dalam hal ini, makna kata yang tepatlah yang diperlukan.
Kata yang tepat akan membantu seseorang mengungkapkan dengan tepat apa yang ingin disampaikannya, baik lisan maupun tulisan. Di samping itu, pemilihan kata itu harus pula sesuai dengan situasi dan tempat penggunaan kata-kata itu.[1]
1.1.1           Keserasian Pilihan Kata
Penulis karangan, sadar tidak sadar, berhadapan dengan masalah pemilihan kata, kadang-kadang komunikasi dapat juga efektif dengan kosakata terbatas atau kurang tepat, tetapi pengenalan jumlah kata yang terbatas berarti juga pembatasan sumber daya untuk mengungkapkan diri di dalam kehidupan berbahasa.
Di samping saran umum yang biasanya diajukan kepada orang yang ingin memperluas kosa katanya, yakni, (1) pemakaian kamus umum dan kamus sinonim yang baik, (2) pemasukan kata baru di dalam tulisan dan pembicaraan, dan (3) usaha membaca jenis tulisan yang sebanyak-banyaknya, ada jalan lain untuk mencapai kosa kata yang luas dan untuk memperoleh kepekaan bahasa yang lebih luas.
Kita dapat memilih kata baik karena denotasinya maupun karena konotasinya. Denotasi kata ialah arti harfiahnya. Denotasi dapat juga diartikan hubungan antara kata (atau ungkapan) dengan barang, orang, tempat, sifat, proses, dan kegiatan di luar sistem bahasa (dan yang  disebut denotatanya). Jadi denotata kata kuda ialah ‘kelas hewan mamalia pemakan rumput yang dipelihara manusia untuk menarik muatan, mengangkut barang, atau untuk dikendarai’. Konotasi itu dapat bersifat pribadi dan bergantung pada pengalaman orang seorang dengan kata atau dengan barang atau gagasan yang diacu oleh kata itu. Misalnya, bagi beberapa orang kata ular, jaksa, radikal,  mempunyai nilai rasa tambahan.
Selanjutnya kita dapat memilih di antara kata yang kongkret dan kata yang abstrak. Kata yang kongkret mengacu ke barang yang spesifik di dalam pengalaman kita. Kata yang kongkret dapat efektif sekali di dalam karangan pengisahan (narasi) dan pemerian (deskripsi) karena merangsang pancaindera. Namun, tidak semua karangan perlu bersifat kongkret. Kata abstrak ialah kata yang merujuk sifat (panas, dingin, baik), ke nisbah (keperiadaan atau eksistensi, jumlah, urutan), dan gagasan (keadilan, keberterimaan, kesatuan). Kata abstrak sering dipakai untuk mengungkapkan gagasan yang rumit. Kata itu mampu menjelaskan perbedaan yang halus di antara gagasan yang bersifat teknis dan khusus. Walaupun begitu, kita hendaknya berhati-hati jika menggunakan kata abstrak sebab karangan yang dihamburi kata abstrak dapat menjadi samar dan tidak cermat. Ambillah sebagai contoh, penggalan yang berikut ini.
“….Saya pikir, hakiki Pancasila adalah sifat monodualisme manusia. Yaitu, sifat dasar manusia sebagai makhluk individu dan makhluk sosial; makhluk yang terlibat dalam kehidupan spiritual dan jasmaniah. Persoalannya sekarang, sampai seberapa jauh kedua hal itu bias berperanan dalam posisi berimbang. Di satu pihak, dari kacamata yang berkuasa tampak ada kekuatiran terganggunay stabilitas, sehingga bobotnya lebih ditekankan pada kolektivitas. Tetapi dari segi lain, keadaan seperti ini belum cukup memberi peluang bagi partisipasi politik.” (Kompas, 18 Nov. 1981)

Salah pakai kata abstrak tidak saja menyamarkan maksud penulis - yang tidak jarang sangat terpelajar, tetapi kata itu juga menyebabkan karangannya tampak kaku.
Pemilihan yang berikut ialah di antara kata umum dan kata khusus. Kata umum dipakai untuk mengungkapkan gagasan atau ide yang umum, sedangkan kata khusus digunakan untuk seluk-beluknya atau perinciannya. Kata umum ialah kata yang dapat diterapkan pada banyak hal, pada kumpulan, atau pada keseluruhan sifat barang. Jika kata itu, sebaiknya, hanya mengacu ke beberapa sifatnya itu atau ke beberapa bagiannya saja, kata itu disebut khusus. Kata pakaian, misalnya, termasuk kata umum, tetapi celana jengki biru menggambarkan ide yang khusus.
Kata umum dan kata khusus tidak selalu sama dengan kata abstrak dan kata kongkret. Kata umum tidak dengan sendirinya abstrak, dan kata kongkret tidak selalu khusus. Ambillah contoh kata saudara yang bersifat umum karena denotatanya banyak, tetapi yang jelas tidak abstrak. Sebaliknya, kata itu tidak begitu khusus walaupun kongkret. Untuk mengkhususkannya kita perlu memilih di antara kata abang, adik, sepupu, saudara dua pupu, saudara tiri, saudara susuan, dan sebagainya
1.1.2          Kecermatan dan Ketepatan Pemakaian Kata
Di dalam percakapan pemakaian frasa tidak mengganggu, tetapi di dalam tulisan ungkapan yang ringkas menjadikan diksi lebih sarat informasi. Bandingkanlah:mengadakan penelitian dengan meneliti, disebabkan oleh fakta dengan karena, mengajukan saran dengan menyarankan, melakukan kunjungan dengan berkunjung; meninggalkan kesan yang mendalam dengan sangat mengesankan; mengeluarkan pemberitahuan dengan memberitahukan. Tentu bukan maksudnya kita selalu harus memilih kata yang ringkas; yang penting ialah kita jangan selalu memilih frasa yang panjang jika ada padanannya yang lebih ringkas.
Pemakaian pewatas yang berlebih dapat mengurangi kekuatan dan kecermatan diksi. Jika nomina dan verba masing-masing sudah dapat menjelaskan maksud, maka kita tidak perlu menambahkan pewatas yang sebenarnya tidak memperjelas keterangan. Kata atau ungkapan yang banyak disalahgunakan antara lain ialah cukup, relatif, pasti, sering, sangat, banyak, selalu, sama sekali. Misalnya, cukup memuaskan, relatif lebih murah, pasti menang, sering menyalahgunakan kekuasaan, sangat meyakinkan, banyak pejabat yang tidak mau bertanggung jawab, selalu datang terlambat, sama sekali belum makan.
Diksi yang cermat dan kuat berkurang nilainya karena pemakaian ungkapan klise, yakni frasa yang sudah terlalu sering digunakan penulis yang tidak berdaya cipta dan yang malas berpikir. Pidato dan uraian tidak jarang terjadi dari untaian ungkapan yang berulang-ulang muncul dalam karangan yang sejenis. Misalnya masyarakat yang adil dan makmur, maaf lahir batin, terima kasih sebelum dan sesudahnya, demi pembangunan manusia seutuhnya, menurut Undang-undang Dasar ’45 dan Pancasila, ilmu dan teknologi, terancam gulung tikar; agar unik, tonggak sejarah, arti tersendiri, saudara sebangsa dan setanah air, dengan segala kerendahan hati, generasi penerus, pembunuhan sadis. Karena lazimnya, pemakaian klise tidak dapat dihindari di dalam tulisan. Yang harus dijaga ialah pemakaiannya yang berlebih.
Selanjutnya harus dibedakan diksi yang tidak cermat – yang hanya menegaskan sesuatu dengan kira-kira – dengan diksi yang tidak tepat, tidak betul, atau tidak kena. Diksi yang tidak cermat berhubungan dengan pikiran yang kabur, diksi yang tidak betul dengan ketidaktahuan. Misalnya, nyaris mendapat hadiah, menduduki juara pertama, merupakan contoh diksi yang tidak cermat. Kata merubah alih-alih mengubah, desertasi alih-alih desersi, profanasi alih-alih pelemahan ketahanan, akridasi alih-alih akreditasi, merupakan contoh diksi yang tepat.


1.2         Semantik (Makna Kata)
Makna kata berarti maksud suatu kata atau isi suatu pembicaraan atau pikiran. Makna suatu kata diartikan pula sebagai hubungan antara lambang-lambang bahasa, baik itu yang berupa ujaran ataupun tulisan, dengan hal atau barang yang dimaksudkannya.[2]
Makna kata bermacam-macam jenisnya. Ada yang disebut makna leksikal dan makna gramatikal atau struktural, makna denotatif dan makna konotatif, dan sebagainya
1.2.1          Makna Leksikal dan Makna Gramatikal
Pembagian kedua jenis makna tersebut berdasarkan ada atau tidak adanya perubahan bentuk kata. Kata yang belum mengalami perubahan bentuk, kata itu mengandung makna leksikal. Namun demikian, apabila kata itu telah mengalami perubahan, baik itu yang berupa pengimbuhan, perulangan, ataupun pemajemukan, kata itu mengandung makna gramatikal. Demikian pula apabila telah digunakan dalam kalimat, makna yang dikandung kata itu berupa makna gramatikal.
Berdasarkan uraian di atas, dapatlah dirumuskan pengertian-pengertian sebagai berikut:
a.       Makna leksikal, adalah makna suatu kata sebelum mengalami proses perubahan bentuk ataupun belum digunakan dalam kalimat. Makna leksikal seting pula disebut makna kamus. Makna leksikal adalah makna yang berdasarkan kamus. Untuk mengetahui makna leksikal suatu kata, dalam kamuslah makna itu adanya.
b.      Makna gramatikal, adalah makna suatu kata setelah kata itu mengalami proses gramatikalisasi, baik itu melalui pengimbuhan, pengulangan, ataupun pemajemukan. Makna gramatikal suatu kata bisa sama, berubah, atau bahkan berbeda sama sekali dengan makna leksikalnya. Makna gramatikal sangat bergantung pada struktur kalimatnya. Oleh karena itu, makna gramatikal sering pula disebut makna struktural.
Contoh:
Jenis makna         Contoh kata               Makna
Leksikal                 ibu                               orang yang melahirkan
Gramatikal            keibuan                        bersifat seperti seorang ibu (orang yang melahirkan, penuh sayang)
Contoh lainnya adalah perbedaan makna pada kata didik, pendidik, pendidik-pendidik, dan pendidikan. Sebelum membentuknya menjadi kata berimbuhan, kata didik masih mengandung makna leksikal. Setelah diberi imbuhan, misalnya menjadi pendidik atau pendidikan, kata itu telah mengandung makna gramatikal. Imbuhan pe- menyebabkan penambahan makna pada kata didik, yakni bermakna ‘orang’ atau ‘pekerjaan’ (orang yang pekerjaannya mendidik). Demikian halnya, bila kata itu diberi imbuhan pe-an, maknanya bertambah menjadi ‘hal yang berhubungan mendidik’. Apabila yang dikehendaki bermakna ‘banyak pendidik’, kata itu harus diubah menjadi pendidik-pendidik; bila yang dikehendaki bermakna ‘perbuatan’, kata itu diubah menjadi ‘mendidik’.
Perubahan-perubahan tersebut tidak menyebabkan makna didik berubah seluruhnya. Makna leksikalnya, baik setelah berubah menjadi mendidik, pendidik, maupun pendidikan, masih dapat ditelusuri. Berdasarkan kamus itulah, makna leksikal kata didik dapat kita ketahui.
Cara tersebut dapat dilakukan terhadap kata-kata bentukan yang lain. Makna leksikal itulah yang dapat dijadikan dasar penentuannya. Untuk makna pengelolaan misalnya, pertama-tama yang harus kita cari adalah makna leksikal dari kata kelola. Kemudian, kita mencari arti imbuhan pe(N)-an untuk menentukan makna gramatikalnya
1.2.2         Makna Denotatif dan Makna Konotatif
. Pembagian kedua jenis makna itu didasarkan ada-tidaknya perubahan pada makna dasar suatu kata. Apabila pada kata itu tidak ada perubahan makna, maka kata itu mengandung makna denotasi. Sebaliknya, apabila kata itu mengalami perubahan makna, maka kata itu mengandung makna konotasi. Makna denotasi disebut juga makna lugas. Kata itu tidak mengalami penambahan-penambahan makna. Makna kata itu sesuai dengan konsep asal, apa adanya.
Makna konotasi adalah makna yang berdasarkan perasaan atau pikiran seseorang. Makna konotasi sebenarnya merupakan makna denotasi yang telah mengalami penambahan. Berdasarkan perasaan atau pikirannya, seseorang melakukan penambahan-penambahan makna, baik itu yang berupa pengkiasan ataupun perbandingan dengan benda atau hal lainnya. Ada tidaknya penambahan makna pada suatu kata, diketahui dari konteks penggunaannya dalam kalimat. Berdasarkan hal itu, makna konotasi sering pula disebut makna kias atau makna kontekstual.
Contoh:
Jenis makna                 Contoh kata                 Makna
Denotasi                      ibu guru                       perempuan yang pekerjaannya mengajar
                                    Ibunya Amir                perempuan yang melahirkan Amir
Konotasi                      ibu kota                       pusat pemerintahan
                                    Ibu jari                         jari yang paling besar, jempol
1.2.3         Gejala-gejala Perubahan Makna Kata
Dalam penggunaannya, suatu kata sering kali mengalami perubahan makna. Perubahan yang dimaksud dapat berupa perluasan, penyempitan, peninggian, perendahan, dan sebagainya.
Perluasan Makna (generalisasi), terjadi apabila cakupan makna suatu kata lebih luas dari makna asalnya.
Contoh kata        Makna asal                                             Makna baru
Ibu                      emak                                                    setiap perempuan dewasa, nyonya
Bapak                 ayah                                                     setiap laki-laki dewasa, tuan
Penyempitan makna (spesialisasi), terjadi apabila makna suatu kata lebih sempit cakupannya daripada makna asalnya.
Contoh kata        Makna asal                                             Makna baru
Ulama                 orang yang berilmu                                 pemuka Islam
Sarjana                cendikiawan                                           gelar universitas
Ameliorasi adalah perubahan makna kata yang nilai rasanya lebih tinggi daripada asalnya.
Contoh kata        Makna asal                                             Makna baru
Wanita                lebih rendah daripada perempuan             lebih tinggi daripada perempuan
Peyorasi adalah perubahan makna kata yang nilainya menjadi lebih rendah daripada sebelumnya
Contoh kata        Makna asal                                          Makna baru
Fundamentalis    Orang yang berpegang pada prinsip     orang yang hidup eksklusif, mengutamakan kekekerasan
Kroni                  sahabat                                                kawan dari seorang penjahat
Sinestesia adalah perubahan makna kata akibat pertukaran tanggapan antara dua indra yang berlainan
Contoh kata              Makna asal                                    Makna baru
Kata-katanya pedas   indra pengecap                              indra pendengaran
Berwajah dingin         indra perasa                                   indra penglihatan
Asosiasi adalah perubahan makna kata yang terjadi karena persamaan sifat.
Contoh kata        Makna asal                                          Makna baru
Amplop              wadah untuk memberi uang                suap
Buaya                 binatang buas                                      orang jahat


[1] Zaenal A. dan Amran Tasai. h. 25.
[2] E. Kosasih. Kompetensi Ketatabahasaan dan Kesusastraan. (Bandung: Yrama Widya, 2004). h. 172-183

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar